Pages

Celebrate Independence Day at The Most Extreme Mountain in East Java, Raung Mountain



One of The Most Extreme Mountain in Indonesia, Raung Mountain



"Patriotisme tak mungkin tumbuh dari hipokrisi dan slogan-slogan. Seseorang hanya dapat mencintai sesuatu secara sehat kalau ia mengenal obyeknya. Dan mencintai tanah air Indonesia dapat ditumbuhkan dengan mengenal Indonesia bersama rakyatnya dari dekat. Pertumbuhan jiwa yang sehat dari pemuda harus berarti pula pertumbuhan fisik yang sehat. Karena itulah kami naik gunung" - Soe Hok Gie

Memahami yang dikatakan Gie membuat semangat saya terpacu untuk belajar memahami disekitar saya. Karena hidup adalah belajar yang menuju tujuan, yaitu membuat diri ini menjadi lebih baik. 


Karena hidup adalah soal keberanian, menghadapi yang tanda tanya tanpa kita mengerti tanpa kita bisa menawar. Berbekal doa dari orang tua dan orang terdekat saya, akhirnya saya mantapkan dan beranikan diri untuk berangkat meskipun ada beberapa kendala. Mulai ada berita kecolongan HP, Gopro, kecopetan, dan ada yang sampai ketinggalan kereta. Tapi kendala tersebut tak menyurutkan asa dan semangat juang kami untuk bisa membawa diri mengibarkan bendera di Puncak Sejati. 


Banyak yang bilang Gunung Raung (3.344 mdpl) ialah gunung yang memiliki medan pendakian paling extreme nomor 2 di Indonesia. Untuk mencapai Puncak Sejati Gunung Raung kita harus melewati 4 medan extreme dengan menggunakan Tali Karmantel dengan teknik sederhana Single Rope Technique (SRT), Belaying, Descending Rappeling dan yang terpenting ketika melakukan summit harus membawa Climbing Helmet, Tali Webbing, Carabiner Screw, Figure of Eight, Tali Prusik dan 2 Tali Karmantel dengan panjang 50m dan 20m.



The Golden Sunrise

Spot pertama yang konon banyak (manusia / kamera) yang terjatuh ke jurang. Sebelah kanan jurang sedalam 300 m, sebelah kiri tebing batu, depan belakang ada teman setim sependakian. Jiwa korsa pendaki disini bakal terus diuji. Mulai dari perjalan awal, summit hingga balik ke basecamp lagi. Karena berteman jangan hanya dengan yang membuat kita nyaman saja, tapi yang juga bisa memaksa kita untuk berkembang. 




Extreme 1 Gunung Raung 


I have never seen mountain like this before. Selanjutnya yaitu berjalan sejauh 300 meter di prototipe jembatan Sirathal Mustaqim di dunia. Kanan kiri udah jurang yang dalemnya ga usah dibayangin lagi. 



Climbing Boy "Rere"

Disini kita dituntut untuk disiplin, belajar dalam waktu yang singkat dan langsung praktik dalam sekejap. Merinding sudah pasti, takut jatuh apalagi, yaudah jalanin aja dengan berdoa wkwk


Debu Malam Meniti Jurang


Debu Malam Meniti Jurang


Yang pasti tetep keep safety first bro yang mau ngerasain adrenalin di salahsatu trek pendakian paling extreme di negeri ini. 




Melewati Extreme 3 Track Sirathal Mustaqim Gunung Raung



Extreme 3 Track Sirathal Mustaqim Gunung Raung


Dengan sabar terus berdoa ditengah angin yang semakin menjadi menuju puncak Bendera, lanjut extreme 2 ke Puncak 17, menuju extreme 3 jalur Shiratal Mustaqim track pasir titian satu orang kanan kiri jurang, extreme 4 terakhir menuju puncak tusuk gigi dan puncak sejati. 


Raung is RAWR! tak ada duanya. Sebelum mencapai summit, saya harus berjalan sekitar 1,5 jam untuk mencapai "Puncak Tusuk Gigi", hampir puncakpun harus berjalan menyusuri goa yang terbentuk 3 batu segede Optimus Prime yang saling bersandar. Ngeri" sedap ga kebayang kalo ada gempa mungkin batu" tadi bisa menimpa apa saja yang ada di dalamnya. 



Standing Solo


Inframe Si Slow Walker 

Dalam summit kali ini dibutuhkan konsetrasi tinggi dan fokus yang ekstra, mempersiapkan mental sekuat baja mulai awal pendakian. Alhamdulillah bisa mengibarkan Sang Saka Merah Putih di Puncak Sejati, Gunung Raung. 



Onco Yang Mengibarkan Sang Saka Merah Putih di Kawah Gunung Raung


Alhamdulillah Raung


Alhamdulillah Raung


Abi Si Anak Lampung

Sampai puncak pun harus mikir lagi, gimana cara pulangnya ya ? Ada ga sih jalan yang lain gitu jalan yang enak ga susah wkwk. Perjalanan pulangpun wajib melewati trek pertama pendakian tadi, dan ditambah satu trek extreme lainnya dengan menyusuri tebing seperti di bawah ini.


Mengantri Dulu


Satu Per Satu


Melipir Tebing


Antri Lagi


Bukit Terakhir Sebelum Pulang

Bukan melulu soal kepuasan jiwa, sebuah perjalanan terkadang dimaknai sejumlah pribadi sebagai media untuk menemukan keseimbangan. Mungkin saja karena puisi-puisi Rumi atau hal lain, makin banyak pengarung waktu berjelajah memahami traveling sebagai cara berdialog dengan semesta.
Di antara banyak pemahaman, keselarasan merupakan satu yang sebenarnya lebih mudah ditemukan.
Kalau belum pernah bersua, kamu mungkin hanya perlu mengubah sudut pandang. 


Baru kebayang pas sampe rumah. Ternyata nyawa kemarin tergantung oleh kekuatin tali prusik, webing, carabiner, kekuatan kaki, tangan, harapan, mental, cinta dan Tuhan.

Merasa kaki lemes karena ngeliat kawan" berdiri di pinggiran jurang yg dalem nya busyet pokoknya (kisaran 300-1000 m). Baru kali ini juga naik gunung mikirin gimana caranya turun kebawah karena jalan naik sama turun sama" extreme. Butuh 7 jam dari camp 7 hingga puncak dan begitupun sebaliknya.

Terima kasih sodara-sodara baru saya yang berasal dari berbagai macam Ras, Suku, Agama dan lain-lain :


Lampung:
@sugabiba
@rony_ps


Jakarta:
@alvonsoalberto
@naana1704


Purbalingga:
@saynoaja


Jogja:
@wely_fx


Surakarta:
@sl0w_walker


Gresik:
@rere.nc


Sidoarjo:
@debumalam


Malang:
@pratamaaggist


Professional Guide:
@dodik_dary_awan
@achmad.royhan

Foto selengkapnya ada di Instagram saya 
@fahmiadimara


Fahmi Adimara

I'm a Travel Photographer. I'm passionate at Mountaineering, Traveling, and Diving. This blog is a place where I want to share all the things I love.

No comments:

Post a Comment